Kasus penipuan deepfake video call kian mengkhawatirkan, di mana pelaku menyamar sebagai CEO atau mitra kerja dalam panggilan video realistik untuk memerintahkan transfer dana atau meminta data rahasia. Teknologi kecerdasan buatan generatif yang kian mudah diakses memungkinkan pemalsuan wajah dan suara dengan presisi tinggi dalam waktu singkat.
Untuk melawan ancaman ini, teknologi deteksi terus dikembangkan dengan pendekatan berlapis. Lapisan pertama adalah deteksi berbasis forensik digital, di mana algoritma menganalisis video untuk mencari artefak halus seperti ketidakwajaran dalam tekstur kulit, refleksi cahaya pada mata, atau ketidakkonsistenan kedipan mata yang sering luput dari penglihatan manusia.
Lapisan kedua melibatkan analisis biometrik perilaku, yaitu mempelajari pola alami individu seperti ritme bicara, gerakan kepala mikro, atau ekspresi wajah khas yang sulit direplikasi AI. Pendekatan lain adalah watermarking dan verifikasi blockchain, di mana video asli dari sumber terpercaya diberi tanda tangan digital untuk memastikan keotentikannya.
Yang tak kalah penting adalah analisis audio untuk mendeteksi suara sintetis dengan mengidentifikasi pola spektral yang tidak alami. Meski teknologi deteksi terus maju, pertahanan paling efektif tetap berupa kewaspadaan manusia dan prosedur verifikasi ganda. Institusi disarankan untuk selalu mengonfirmasi instruksi krusial melalui saluran komunikasi terpisah, menjadikan teknologi deteksi sebagai safety net, bukan satu-satunya solusi.

