Keberlanjutan telah menjadi isu strategis dalam dunia bisnis modern seiring meningkatnya tantangan global seperti perubahan iklim, kesenjangan sosial, dan tuntutan transparansi dari pemangku kepentingan (Elkington, 1997; Lozano, 2015). Perusahaan saat ini tidak hanya diharapkan mampu menghasilkan keuntungan finansial, tetapi juga berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan dan sosial. Dalam konteks tersebut, kemampuan organisasi dalam mengelola informasi, mengadopsi inovasi, serta memanfaatkan teknologi informasi menjadi faktor krusial dalam meningkatkan kinerja keberlanjutan.
Salah satu konsep kunci yang semakin mendapat perhatian adalah visibilitas organisasi. Mengacu pada kerangka Resource-Based View (RBV), visibilitas dapat dipahami sebagai sumber daya nirwujud yang mencerminkan kemampuan perusahaan untuk memperoleh, memantau, dan menyebarkan informasi strategis yang relevan secara akurat dan tepat waktu (Lopez-Torres et al., 2024). Tingkat visibilitas yang baik memungkinkan manajemen memahami kondisi operasional secara menyeluruh, mengidentifikasi potensi risiko, serta merespons perubahan dengan lebih cepat dan tepat. Dalam konteks keberlanjutan, visibilitas berperan penting dalam memantau dampak aktivitas bisnis terhadap ekosistem lingkungan dan sosial.
Bagi usaha kecil dan menengah (UKM), pencapaian keberlanjutan sering kali menghadapi tantangan yang lebih besar dibandingkan perusahaan skala besar. Keterbatasan sumber daya, teknologi, dan kapabilitas manajerial menjadi hambatan utama dalam mengimplementasikan praktik keberlanjutan secara sistematis (Muller & Kolk, 2010). Namun, UKM memiliki keunggulan inheren dalam hal fleksibilitas dan kecepatan adaptasi. Dengan strategi yang tepat, UKM dapat memanfaatkan visibilitas sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi operasional dan kinerja keberlanjutan secara bertahap.
Manajemen inovasi memainkan peran penting dalam membangun dan memperkuat visibilitas organisasi. Inovasi tidak hanya berkaitan dengan penciptaan produk atau layanan baru, tetapi juga mencakup pembaruan proses, sistem kerja, serta cara perusahaan mengelola dan menggunakan informasi (Schumpeter, 1934; Tidd & Bessant, 2020). Melalui manajemen inovasi yang efektif, organisasi dapat meningkatkan kualitas informasi, memperbaiki alur komunikasi internal, dan menciptakan proses pengambilan keputusan yang lebih berbasis data. Hal ini pada akhirnya meningkatkan visibilitas dan mendukung pencapaian tujuan keberlanjutan.
Di sisi lain, teknologi informasi berfungsi sebagai sarana pendukung (enabler) untuk memperluas visibilitas. Sistem informasi, platform digital, dan teknologi berbasis data memungkinkan perusahaan mengumpulkan, menyimpan, dan menganalisis informasi secara lebih efisien. Teknologi informasi juga mempermudah pelaporan kinerja keberlanjutan serta meningkatkan transparansi kepada pemangku kepentingan. Namun, penggunaan teknologi semata tidak secara otomatis meningkatkan visibilitas. Tanpa pengelolaan inovasi yang baik, teknologi berpotensi hanya menjadi alat operasional dan beban biaya tanpa memberikan nilai strategis yang signifikan.
Hubungan antara visibilitas dan kinerja keberlanjutan terletak pada kemampuan perusahaan untuk mengambil keputusan yang lebih bertanggung jawab dan terukur. Dengan visibilitas yang memadai, perusahaan dapat mengidentifikasi area pemborosan sumber daya, mengurangi dampak lingkungan, serta memastikan praktik sosial yang lebih adil di seluruh rantai pasok. Selain itu, visibilitas juga memperkuat akuntabilitas perusahaan karena informasi yang transparan memungkinkan pengawasan dari berbagai pihak, termasuk konsumen, mitra bisnis, dan regulator.
Studi empiris terbaru mengonfirmasi bahwa manajemen inovasi memiliki peran yang lebih dominan dibandingkan teknologi informasi dalam meningkatkan visibilitas (Lopez-Torres et al., 2024). Hal ini menegaskan bahwa keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan perangkat teknologi, tetapi juga oleh kualitas proses manajerial dan budaya organisasi. Perusahaan yang mampu mendorong inovasi secara berkelanjutan umumnya memiliki iklim kerja yang inklusif dan mengedepankan keamanan psikologis (psychological safety). Lingkungan yang membebaskan karyawan untuk menyuarakan ide dan mengidentifikasi masalah operasional ini sangat krusial dalam memastikan arus informasi berjalan transparan, yang pada gilirannya membuat perusahaan lebih efektif dalam mendukung strategi keberlanjutan.
Dalam konteks sosial yang lebih luas, visibilitas organisasi memiliki implikasi penting bagi ekosistem pemangku kepentingan. Tantangan global yang semakin kompleks menuntut keterbukaan informasi, partisipasi publik, dan kolaborasi lintas sektor. Pemanfaatan teknologi informasi yang didukung oleh informasi berkualitas dapat mendorong partisipasi masyarakat dalam pengawasan bisnis, memperkuat tata kelola korporat yang transparan, serta secara makro mendukung integrasi ekosistem bisnis ke dalam agenda pembangunan berkelanjutan dan layanan kota cerdas (smart city).
Secara keseluruhan, pembahasan ini menegaskan bahwa peningkatan kinerja keberlanjutan perusahaan, khususnya UKM, sangat dipengaruhi oleh tingkat visibilitas organisasi. Visibilitas tersebut dibentuk melalui sinergi antara manajemen inovasi dan teknologi informasi, dengan penekanan utama pada kualitas pengelolaan informasi. Dengan pendekatan yang terukur ini, perusahaan tidak hanya mampu meningkatkan daya saing, tetapi juga berkontribusi secara nyata terhadap pembangunan berkelanjutan.
