Ilustrasi karyawan menaiki tangga menuju peningkatan kompetensi dengan dukungan teknologi, analisis keterampilan, dan program pembelajaran.

Program Reskilling dan Upskilling: 6 Langkah Menutup Skill Gap

Memetakan skill gap karyawan adalah langkah awal yang penting. Namun pemetaan tersebut belum memberikan dampak apa pun sampai perusahaan benar-benar menutup kesenjangan yang ditemukan.

Banyak organisasi berhenti pada tahap ini. Data keterampilan sudah tersedia, prioritas sudah ditentukan, tetapi program pengembangannya berjalan seperti sebelumnya: pelatihan rutin, peserta yang sama, dan hasil yang sulit diukur.

World Economic Forum memperkirakan bahwa 59 dari setiap 100 pekerja akan membutuhkan pelatihan hingga 2030. Dari jumlah tersebut, 29 orang dapat ditingkatkan kemampuannya pada peran saat ini, 19 orang perlu dialihkan ke peran baru melalui reskilling, dan 11 orang diperkirakan tidak akan memperoleh pelatihan yang dibutuhkan. [1]

Angka terakhir itulah yang menjadi risiko. Kesenjangan keterampilan tidak hilang hanya karena sudah terdeteksi.

Artikel ini melanjutkan pembahasan mengenai pemetaan skill gap dan berfokus pada langkah berikutnya: bagaimana merancang program reskilling dan upskilling yang benar-benar menutup kesenjangan tersebut.

Membedakan Upskilling, Reskilling, dan Pilihan Lainnya

Sebelum merancang program, perusahaan perlu memastikan bahwa strategi yang dipilih sesuai dengan jenis kesenjangan yang dihadapi.

Upskilling meningkatkan kemampuan karyawan pada peran yang sedang dijalani. Pendekatan ini cocok ketika pekerjaan masih relevan, tetapi cara mengerjakannya berubah.

Reskilling mempersiapkan karyawan untuk peran yang berbeda. Pendekatan ini digunakan ketika peran lama menyusut atau tidak lagi dibutuhkan, sementara karyawan masih memiliki potensi untuk berkembang di tempat lain.

Internal mobility memindahkan talenta yang kemampuannya sudah sesuai ke posisi yang lebih membutuhkan, tanpa harus melalui pelatihan panjang.

Rekrutmen dipilih ketika kemampuan yang dibutuhkan tidak tersedia di dalam organisasi dan waktu pemenuhannya mendesak.

Automation dipertimbangkan ketika aktivitas tertentu lebih tepat dialihkan ke teknologi daripada dikembangkan sebagai keterampilan manusia.

Kesalahan yang sering terjadi adalah memperlakukan semua gap sebagai kebutuhan pelatihan. Padahal, sebagian kesenjangan lebih tepat diselesaikan melalui perpindahan internal atau perubahan proses kerja.

Kerangka Memilih Strategi yang Tepat

Keputusan strategi sebaiknya didasarkan pada dua pertimbangan: seberapa besar jarak kemampuan yang perlu ditempuh, dan seberapa mendesak kebutuhan bisnisnya.

Kondisi Strategi yang Sesuai Perkiraan Waktu
Gap kecil, peran tetap relevan Upskilling Singkat hingga menengah
Gap besar, peran lama menyusut Reskilling Menengah hingga panjang
Kemampuan sudah ada di divisi lain Internal mobility Singkat
Tidak tersedia internal, kebutuhan mendesak Rekrutmen Bergantung pasar tenaga kerja
Aktivitas berulang dan terstruktur Automation Bergantung kesiapan sistem

Kerangka ini membantu perusahaan menghindari dua kesalahan yang berlawanan: melatih karyawan untuk kemampuan yang sebenarnya lebih cepat dipenuhi melalui rekrutmen, atau merekrut dari luar padahal kemampuan tersebut sudah tersedia di dalam organisasi.

Menyusun Program Berdasarkan Prioritas Gap

Pada pemetaan skill gap, kesenjangan biasanya dikelompokkan menjadi kritis, strategis, dan pengembangan. Pengelompokan tersebut sebaiknya diteruskan ke dalam desain program, karena setiap kategori membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Gap kritis membutuhkan intervensi cepat dan terfokus. Programnya sebaiknya berdurasi pendek, melibatkan peserta terbatas, dan langsung diterapkan pada pekerjaan. Pendampingan oleh ahli internal umumnya lebih efektif dibandingkan pelatihan kelas besar.

Gap strategis dapat ditangani melalui program berjenjang yang berjalan beberapa bulan. Karena kebutuhannya bersifat jangka menengah, perusahaan memiliki ruang untuk menggabungkan pembelajaran formal, proyek nyata, dan evaluasi berkala.

Gap pengembangan cocok dipenuhi melalui pembelajaran mandiri dengan materi yang tersedia secara berkelanjutan. Kategori ini tidak perlu menghabiskan porsi besar dari anggaran.

Pembagian ini penting karena anggaran pembelajaran selalu terbatas. Tanpa prioritas, program cenderung tersebar merata dan tidak memberi dampak yang terasa pada kebutuhan yang paling mendesak.

Merancang Learning Path yang Terhubung dengan Pekerjaan

Program pengembangan yang efektif tidak berhenti pada penyediaan materi. Perusahaan perlu merancang jalur pembelajaran yang jelas dari kondisi saat ini menuju tingkat kemampuan yang dibutuhkan.

Sebuah learning path sebaiknya memuat:

  • Titik awal, yaitu tingkat kemampuan aktual berdasarkan hasil pemetaan;
  • Target, yaitu tingkat kemampuan yang dibutuhkan peran tersebut;
  • Tahapan, yaitu urutan materi dan aktivitas yang perlu diselesaikan;
  • Penerapan, yaitu tugas atau proyek nyata tempat kemampuan tersebut digunakan;
  • Validasi, yaitu cara memastikan kemampuan benar-benar meningkat.

Bagian penerapan sering diabaikan, padahal justru bagian inilah yang menentukan apakah pelatihan menghasilkan perubahan.

Deloitte menyoroti bahwa AI mulai memungkinkan proses pembelajaran berlangsung lebih dekat dengan aktivitas kerja, sehingga karyawan dapat mempraktikkan kemampuan baru langsung di dalam alur pekerjaan sehari-hari. Pendekatan ini mengurangi jarak antara materi pelatihan dan penggunaannya di lapangan. [2]

Secara praktis, hal ini berarti setiap program pengembangan sebaiknya disertai pertanyaan sederhana: pada pekerjaan apa kemampuan ini akan digunakan dalam tiga bulan ke depan? Jika pertanyaan tersebut tidak memiliki jawaban yang jelas, kemungkinan besar pelatihan tidak akan menghasilkan perubahan nyata.

Peran Manajer dalam Keberhasilan Program

Program pengembangan sering dianggap sebagai tanggung jawab tim HR atau L&D. Padahal, manajer langsung memiliki pengaruh besar terhadap hasilnya.

Manajer menentukan apakah karyawan memiliki waktu untuk belajar, apakah kemampuan baru diberi kesempatan untuk digunakan, dan apakah kemajuan karyawan dibicarakan secara berkala.

LinkedIn mencatat bahwa organisasi yang berhasil menjadikan pengembangan karier sebagai kekuatan justru menggabungkan pelatihan dengan pendampingan, mobilitas internal, dan jalur karier berbasis keterampilan. Namun hanya sekitar sepertiga organisasi yang benar-benar menerapkan pendekatan menyeluruh tersebut. [3]

Karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa manajer:

  • memahami hasil pemetaan skill gap timnya,
  • memberikan alokasi waktu belajar yang realistis,
  • menugaskan pekerjaan yang relevan dengan kemampuan yang sedang dikembangkan,
  • serta membahas perkembangan kemampuan dalam percakapan kinerja rutin.

Tanpa dukungan manajer, program pembelajaran cenderung berhenti pada penyelesaian materi.

Peran HRIS dalam Menjalankan Program

HRIS berperan menghubungkan hasil pemetaan keterampilan dengan pelaksanaan program pengembangan. Tanpa integrasi tersebut, data skill gap dan data pelatihan sering berada di tempat yang terpisah.

HRIS dapat digunakan untuk:

  • menyimpan profil keterampilan karyawan beserta tingkat penguasaannya,
  • menghubungkan gap yang teridentifikasi dengan program pengembangan yang relevan,
  • mencatat riwayat pelatihan, sertifikasi, dan hasil asesmen,
  • memantau kemajuan peserta secara berkala,
  • serta menampilkan perkembangan kesiapan tenaga kerja pada tingkat divisi maupun organisasi.

Dengan data yang terhubung, perusahaan dapat menjawab pertanyaan yang sebelumnya sulit dipastikan, seperti apakah gap pada divisi tertentu benar-benar mengecil setelah program berjalan, atau apakah karyawan yang menyelesaikan pelatihan kemudian benar-benar mengisi peran yang dituju. Pembahasan lebih lanjut mengenai hal ini dapat dilihat pada artikel analitik SDM.

Pendekatan ini melanjutkan fungsi HRIS yang telah dibahas pada artikel talent readiness di era AI, yaitu bukan sekadar tempat menyimpan data, melainkan fondasi untuk mengambil keputusan pengembangan tenaga kerja.

Mengukur Keberhasilan Program

Program reskilling dan upskilling perlu diukur melalui indikator yang menunjukkan perubahan kemampuan, bukan sekadar aktivitas pelatihan.

Indikator yang perlu dihindari sebagai ukuran utama:

  • jumlah jam pelatihan,
  • jumlah peserta,
  • tingkat penyelesaian materi,
  • serta tingkat kepuasan peserta.

Indikator tersebut berguna untuk memantau pelaksanaan, tetapi tidak menunjukkan apakah kesenjangan keterampilan benar-benar berkurang.

Indikator yang lebih relevan antara lain:

Gap Closure Rate

Persentase penurunan kesenjangan pada keterampilan yang menjadi prioritas.

Learning Application Rate

Persentase karyawan yang menerapkan kemampuan baru dalam pekerjaan.

Reskilling Success Rate

Persentase peserta reskilling yang berhasil menjalankan peran baru.

Internal Mobility Rate

Persentase posisi yang berhasil diisi oleh karyawan internal.

Critical Role Readiness

Persentase posisi kritis yang telah memiliki kandidat internal yang siap.

Time to Proficiency

Waktu yang dibutuhkan karyawan untuk mencapai tingkat kemampuan yang ditargetkan.

Indikator tersebut melengkapi KPI HR setelah implementasi HRIS yang telah digunakan sebelumnya untuk mengukur efisiensi sistem, sehingga perusahaan dapat menilai dampak program pada dua sisi sekaligus: proses dan kemampuan tenaga kerja.

Kesalahan yang Perlu Dihindari

Menjalankan pelatihan tanpa merujuk pada hasil pemetaan

Program yang tidak terhubung dengan gap yang teridentifikasi berisiko mengulang materi yang sebenarnya sudah dikuasai.

Menyamakan seluruh gap sebagai kebutuhan pelatihan

Sebagian kesenjangan lebih tepat diselesaikan melalui mobilitas internal, perubahan proses, atau rekrutmen.

Tidak menyediakan kesempatan penerapan

Kemampuan yang tidak digunakan setelah pelatihan akan menurun kembali dalam waktu singkat.

Mengabaikan peran manajer

Program yang hanya dijalankan oleh HR tanpa keterlibatan atasan langsung sulit bertahan.

Mengukur aktivitas, bukan hasil

Laporan yang hanya menampilkan jumlah pelatihan tidak menjelaskan apakah kesiapan tenaga kerja meningkat.

Merancang program terlalu besar di awal

Program yang terlalu luas sulit dijalankan secara konsisten. Memulai dari beberapa posisi kritis umumnya memberikan hasil yang lebih terukur.

Memulai dengan Skala yang Realistis

Perusahaan tidak perlu membangun program menyeluruh sejak awal. Pendekatan bertahap justru lebih mudah dipertahankan.

Langkah awal yang dapat dilakukan:

  1. Pilih dua hingga tiga posisi kritis dengan gap paling besar.
  2. Tentukan keterampilan utama yang perlu dikembangkan pada posisi tersebut.
  3. Tetapkan strategi pemenuhannya, apakah melalui upskilling, reskilling, atau mobilitas internal.
  4. Rancang learning path yang terhubung dengan pekerjaan nyata.
  5. Catat progresnya di dalam HRIS.
  6. Evaluasi hasilnya setelah satu siklus, lalu perluas ke posisi berikutnya.

Pendekatan ini memungkinkan perusahaan memperoleh bukti keberhasilan lebih cepat, yang kemudian dapat digunakan untuk memperkuat dukungan terhadap program berikutnya.

Kesimpulan

Pemetaan skill gap menunjukkan di mana kesenjangan berada. Program reskilling dan upskilling menentukan apakah kesenjangan tersebut benar-benar tertutup.

Program yang efektif memiliki beberapa ciri: strategi dipilih sesuai jenis kesenjangan, prioritas menentukan alokasi sumber daya, pembelajaran terhubung dengan pekerjaan nyata, manajer terlibat aktif, dan keberhasilannya diukur melalui perubahan kemampuan, bukan jumlah aktivitas.

World Economic Forum mencatat bahwa kesenjangan keterampilan merupakan hambatan terbesar bagi transformasi bisnis. Hambatan tersebut tidak berkurang hanya karena perusahaan memiliki data yang lebih baik. [4]

Perusahaan yang mampu mengubah hasil pemetaan menjadi program pengembangan yang terarah akan lebih siap menghadapi perubahan kebutuhan keterampilan dibandingkan perusahaan yang berhenti pada tahap analisis.

 


Pratama Tech siap membantu perusahaan membangun solusi HR digital yang lebih terintegrasi, mulai dari pengelolaan data karyawan hingga analitik yang mendukung pengembangan talent dan keputusan bisnis.

Leave A Comment